Senin, 14 September 2015

Cerpen : Kepingan Usia

Kepingan Usia
Karya : Fahri Farih Kusuma


          Sahabatku, rossoneri. Sudah lama sekali ya, aku gak ngetik di blog ini, sebagai hidangan pertama setelah aku Vacuum pasca Ujian Nasional, aku kasih cerpenku. 
          Walaupun ini cerpen kubuat karena tugas sekolah, tapi aku gak terlalu mikir kok. Aku cuma ngejalanin apa yg ada di pikiranku saat itu. Jadi, maaf kalau ada yang kurang.
      
Well, read and enjoy it!

            Lega. Itulah yang ku rasakan ketika besok aku kan bertemu istri dan anakku tanpa penjagaan mereka lagi. Aku, menghuni tempat ini puluhan tahun lamanya. Modalku masuk sini hanya dengan mengacaukan pedesaanku, bahkan negaraku.
             Lupakan, aku tak ingin mengingat kejadian itu lagi, sudah cukup untuk ku kenang. Sekarang tugasku hanya tinggal mengisi sisa hidupku bersama keluarga.
            Penjaga membangunkanku, menyuruhku untuk bersiap - siap. Tak sabar aku melakukan ini, ku ambil cepat barang - barang yang sudah ku siapkan sejak tadi malam.
            "Hey Pak! Silakan keluar!" nadanya keras.
            Dia selalu begitu, belum berubah sejak aku masuk sel ini. Dia masih menganggapku teroris. Setiap hari, mereka memperlakukanku seperti ini.
            "Baiklah, santai." balasku ketus.
            Aku keluar dari tempat itu, istri dan anakku sudah menunggu. Mereka tersenyum padaku, seraya meneteskan air mata, dan aku pun juga. Pelukan yang lama telah mengobati rasa rinduku pada mereka.
            "Pa, bagaimana kabarmu?" tanya istriku.
            "Baik seperti biasanya, Ma." balasku dengan senyuman.
            "Roy, kau makin besar saja Nak!" kataku pada anakku, sambil menepuk pundaknya yang sejajar dengan pundakku.
            "Jelas, putih abu - abu Pa!" terang istriku.
            Kami pulang dengan mobil, berbagi cerita di perjalanan. Sejak kami keluar dari rutan itu, jurnalis sudah mengerumuni kami, tapi ku sikapi dengan santai.
            "Bagaimana sekolahmu? Masih teratas kan Roy?" tanyaku sambil menyetir.
            "Masih Pa, Jika boleh, aku akan kuliah di luar negeri. Jika boleh lho Pa!" balasnya sambil mengharap jawabanku.
            "Tentu Nak, selama kau pintar." kataku lembut.
            Kami sampai di rumah. Pak satpam membukakan gerbang. Kata istriku, dia satpam baru, dia baru bekerja seminggu ini. Dia berjenggot panjang dan tebal, layaknya manusia gua.
            Bu Minah, sudah membereskan kamar tidur untuk aku dan istriku. Kami tidur nyenyak selama beberapa hari. Hanya beberapa hari saja.
            Ketika kami sedang sarapan, kami melihat dari jendela. Bu Minah dan pak satpam sedang mengobrol sambil melihatku dengan muka serius.
            "Apa yang mereka bicarakan, Ma?" tanyaku sambil mengunyah.
            "Ah, mungkin hanya gosip pagi hari. Tak usah dipikir, tiap hari mereka mengobrol di depan rumah Pa."
            "Oh begitu." jawabku singkat, masih mengunyah.
            Aku melanjutkan sarapan, istriku juga.
            "Gawat Pa!" Roy berlari mendekati kami, mukanya kacau.
            "Ada buronan di desa kita! Aku baru saja lihat di berita televisi!"
            Aku kaget, tersentak. Ku obati dengan air teh.
            "Nak, jangan mengada - ada. Tak mungkinlah." istriku menenangkan.
            "Beneran, coba saja lihat koran hari ini." Roy bersikeras.
            "Jo, ambilkan koran di depan pintu!" perintah istriku pada pak satpam.
            "Baik nyonya." dia berlari sambil membawa koran.
            Istriku mulai membacanya. Jari telunjuknya mencari - cari. Tiba - tiba raut wajahnya berubah.
            "Sulit dipercaya Pa! Apa yang dikatakan Roy memang benar, kita harus waspada dengan buronan itu."
            Roy hanya diam, lalu dia berkata yang tidak - tidak lagi.
            "Apakah ada hubungannya denganmu, Pa?"
            "Apa maksudmu, Nak?" aku balik bertanya seakan tak tahu.
            "Buronan itu, mungkinkah dia mencarimu?" tanya anakku lagi.
            Sekarang dia mengagetkanku, lagi dan lagi.
            "Sudahlah, segera berangkat Roy! Sudah jam setengah tujuh!" bentak istriku mengakhiri percakapan.
            Pertanyaan terakhir anakku masih terngiang - ngiang di telinga. Aku khawatir bila itu memang benar, pasalnya aku tak ingin menyentuh dunia penghakiman lagi. Aku berusaha menentramkan pikiran. Tidur adalah kegiatan yang kupilih.
            Suara gaduh di luar rumah membangunkanku. Ternyata aku tidur beberapa jam. Aku keluar untuk mengetahui keadaan. Pak satpam terlihat sibuk mengurusi banyak orang di luar sana. Aku mencoba keluar rumah. Tak kusangka, mereka adalah jurnalis.
            "Pak Malik, mohon bukakan gerbang, ada hal penting yang ingin kami tanyakan!" mereka berteriak sembari menggerakkan kamera.
            "Akan kujawab dari sini. Pak satpam, jangan buka."
            "Siap, Tuan." jawabnya.
            "Baik Pak, apakah bapak mengenal Pak Dwi Sumarno?"
            "Saya tak mengenalnya."
            "Mohon dijawab dengan jujur bapak!"
            "Ini hati nurani, saya tidak berbohong." tegasku.
            "Menurut informasi, Pak Dwi Sumarno adalah buronan kelas kakap, ia teroris yang belum dapat dicekal. Sedangkan bapak adalah mantan teroris. Apakah bapak merasa khawatir dengan keberadaan teroris di desa ini?"
            "Jujur, saya khawatir. Saya tegaskan, saya sama sekali tidak mengenalnya, jadi tak ada hubungan apapun antara saya dan Pak Dwi Sumarno." nadaku marah.
            "Baiklah Pak, selanjutnya kami ingin mewawancarai istri bapak, dan semua pekerja yang ada di rumah bapak, termasuk pak satpam. Tapi secara bergilir, artinya mereka keluar dari gerbang satu per satu."
            "Oh, silakan. Tapi istriku belum pulang karena sedang bekerja." kataku dengan senyum.
            "Baik Pak, terima kasih. Kami akan menunggu istri bapak." mereka terlihat senang.
            Pembantu dan satpamku keluar untuk menemui jurnalis. Sekarang aku tinggal menanti hasil wawancara mereka. Setengah jam berlalu, mereka telah selesai. Aku penasaran dengan hasilnya.
            "Bagaimana Pak Jo?" tanyaku pada satpam.
            "Beres Pak. Kami jawab dengan jujur." jawabnya.
            Semoga tak ada apa - apa denganku. Aku benar - benar tak mengira akan seperti ini jadinya. Padahal aku baru saja keluar dari neraka itu. Tiba - tiba datang ujian berat untukku. Dwi Sumarno, kucari identitasnya di internet. Memang benar dia adalah buronan negara. Sudah lebih dari lima tahun dia bersembunyi. Dia terkenal pandai menyamar, sehingga dia punya banyak nama. Entah dimana keberadaannya, yang pasti ada di desa ini. Desaku memang luas, jadi lumayan sulit untuk menemukan orang itu.
            Teriknya matahari hampir sebanding dengan perasaanku pada buronan itu. Sekarang, aku melihat Pak Jo menerima tamu lagi, tapi kali ini berbeda, mereka bukan jurnalis. Mereka menunjukkan identitasnya pada Pak Jo, dan tanpa ijin dariku, mereka sudah memasuki wilayah rumah.
            "Kami penyidik, apakah benar Anda adalah Pak Malik Gunawan?" mereka memulai penyidikan.
            "Betul, kenapa Pak?"
            "Kami menerima informasi, bahwa bapak adalah mantan teroris terkenal. Bapak berpengalaman dalam aksi teror selama lebih dari tiga tahun. Apakah bapak sudah sadar?"
            "Iya, saya sadar Pak." jawabku dengan muka bosan.
            "Bukan itu yang mau saya tanyakan. Tapi berhubungan dengan hal tersebut, diketahui juga sekarang ada seorang buronan bernama Dwi Sumarno di desa bapak. Apakah bapak mengetahuinya?" Dia bertanya lagi, dan ku yakin itu pertanyaan sepele.
            "Tentu Pak, saya tahu."
            "Jadi, apakah bapak pernah saling mengenal?" pertanyaan itu sudah kedua kalinya dilontarkan.
            "Tidak pernah, dan saya berkata jujur. Tuhan mengawasi."
            "Oh, begitukah?" dia belum percaya.
            "Baiklah pak, saya akan menyidik pekerja bapak, serta saya akan melihat keadaan rumah bapak, apakah steril atau tidak. Untuk sementara bapak berstatus terduga."
            "Tidak masalah Pak, silakan melakukan penyidikan."
            Aku mengawasinya, melihat setiap gerak - gerik tubuhnya, hingga mereka selesai dan keluar dari lingkunganku. Sebelum pulang, mereka berpamitan.
            Istriku sudah pulang, dia terlihat kaget karena jurnalis mengerumuninya. Dia keluar dari mobil dan langsung diajak wawancara. Aku memandangnya dari jendela. Namun, selang beberapa menit, keadaan berubah pesat, telinganya memerah. Dia meminta untuk menyudahi wawancara. Jurnalis masih bersikeras untuk mewawancarai istriku, mereka menyeret tangannya yang lelah. Keadaan semakin kacau, sekarang dia memukul kamera. Aku tak kuasa melihatnya, segera aku keluar dan menyuruh mereka tenang. Akhirnya, jurnalis pamit pulang.
            "Ma, tidak usah begitu. Wajar bila mereka menghampirimu." aku menasehati.
            "Bukannya itu Pa, tapi mereka menanyaiku yang tidak - tidak. Mereka menganggapmu bersekongkol dengan buronan itu."
            Hari ini memang hari yang sulit. Buronan itu memang kurang ajar. Dia menambah beban hidupku. Malam ini aku tak dapat tidur nyenyak. Sama sekali tidak. Roy dan istriku juga ikut bingung. Kami hanya bisa menanti berita selanjutnya. Sebenarnya siapa dia? Mengapa dia bersembunyi di desaku? Itu pertanyaan yang muncul di kepalaku.
            Minggu yang cerah ini kuawali dengan senam pagi. Sekadar untuk menenangkan jiwa dan raga. Kugerakkan badanku sana - sini. Aku menunggu koran hari ini. Kemudian datanglah penjual koran itu. Ia tampak gugup melewati rumahku.
            "Nih Pak, koranmu!" dia melempar dari depan gerbang, lemparannya tepat di depan kaki ku.
            Astaga. Namaku ada di bagian teratas koran.
            "Kerja sama buronan dan mantan teroris khawatirkan negara? Apa - apaan ini?!" seolah aku tak percaya.
            Jantungku hampir copot. Aku tak mampu mempercayainya. Aku berteriak sekeras - keras mungkin. Aku jatuh dan tak mampu berdiri. Kalau boleh menangis, aku akan melakukannya.
            "Ada apa Pa?" istriku datang dan mengambil koran yang jatuh di lantai teras.
            "Ki..Kita?" dia tergagap.
            Aku dan istriku saling menatap, memikirkan penyebabnya. Kemudian aku lanjutkan membaca koran itu.
            "Walijo sebagai satpam rumah itu mengatakan bahwa sempat ada komunikasi antara Malik Gunawan dan Dwi Sumarno. Ia menambahkan, buronan pernah tinggal di kediaman Malik Gunawan selama beberapa hari. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sidik jari buronan di rumahnya." aku membacanya.
            "Jadi..." istriku menyimpulkan, dan aku pun tahu yang dia maksud.
            Ternyata ini ulah Pak Jo. Tanganku mengepal, akan kuhajar dia. Aku beranjak dari teras dan segera menuju pos satpam di dekat gerbang. Kemarin dia mengatakan bahwa dia jujur saat wawancara. Tapi kenyataannya tidak, dan sekarang dia tak ada di pos itu. Dia akan datang terlambat, atau mungkin dia tak akan berani datang.
            Beberapa jam kemudian, Pak Jo tak kunjung datang. Tapi dari kejauhan, hanya kulihat gerombolan orang yang menuju ke rumahku. Mungkin jurnalis itu lagi, aku muak dengan mereka. Setelah kuperhatikan lagi, tak kusangka lebih dari itu. Mereka terdiri dari jurnalis, polisi, densus, dan warga desaku. Mereka datang dengan cepat, ada yang berlari. Aku, Roy, Istriku, dan Bu Minah tak punya kesempatan untuk melarikan diri. Sudah terlambat, kami dikepung.
            "Malik Gunawan! Keluar dan angkat tanganmu!" densus menyuruhku. Mereka mengarahkan senjata apinya ke wajahku.
            "Baik Pak." aku keluar sembari mengangkat tangan.
            "Pa!" teriak istri dan anakku meronta - ronta.
            Aku tetap mendekati mereka dan membukakan gerbang agar mereka menangkapku. Tak apa, akan kubuktikan bahwa aku tak bersalah. Mereka memborgol tanganku, kemudian aku dipaksa merunduk, dan masuk mobil polisi. Aku mulai meninggalkan rumah, dan kulihat jurnalis berlarian masuk ke rumahku, dan sebagian mengejarku.
            "Apa yang kau rencanakan Malik? Belum puas dengan aksi terormu puluhan tahun lalu?" polisi mengajakku berbicara.
            "Aku tak bersalah. Akan kubuktikan!" tegasku.
            "Lucu sekali Malik, kami tak kan percaya." dia tersenyum meremehkan.
            "Silakan periksa saksiku. Aku dijebak satpamku. Dia satpam baru di rumahku, dan dia adalah Dwi Sumarno!" aku menantang.
            "Katakan itu di persidangan nanti." dia menyarankan.
            Hari demi hari berlalu, aku masih diamankan di kantor polisi sambil menunggu waktu penyidangan. Saat penyidangan nanti, akan hadir beberapa saksi. Mereka adalah keluarga, pekerja, dan tetanggaku. Kuharap buronan itu benar - benar jujur saat ditanya hakim.
            Hari sidang itu datang, sekarang aku sudah berstatus tersangka. Aku akan menghadapi ujian yang lebih berat siang ini. Sebelum sidang dimulai, aku disuruh bersumpah untuk tidak berbohong. Tiba saatnya, aku diberi pertanyaan.
            "Saudara Malik Gunawan, kapan Anda melakukan komunikasi dengan Dwi Sumarno?"
            "Saya melakukannya lebih dari seminggu setelah satpamku bekerja."
            "Bertemu langsung atau melalui telepon?"
            "Bertemu langsung."
            "Kapan terakhir kali saudara berkomunikasi dengannya?"
            "Sehari sebelum saya ditangkap. Tepatnya saat saya mengobrol dengan satpam."
            "Apakah saudara merencanakan sesuatu dengan Dwi Sumarno?"
            "Tidak, saya hanya bercakap - cakap saja. Tidak lebih dari itu."
            "Ingat, saudara sudah disumpah. Itu artinya saudara harus berlaku jujur, kalau tidak, itu urusan bapak dengan Yang di Atas."
            "Demi Tuhan, saya jujur."
            "Baiklah, lalu kalau saudara jujur, dimana Dwi Sumarno sekarang?"
            "Tepat di belakangku."
            "Apa maksudmu? Satpam Anda?" dia tak percaya dan meremehkanku.
            "Betul sekali." kujawab tegas.
            "Bukannya bapak satpam itu adalah Pak Walijo, sebagai saksi dalam penyidangan ini?"
            "Dua - duanya, dia adalah Dwi Sumarno dan Pak Walijo. Dia punya banyak nama karena dia terkenal pandai menyamar. Dia menjebak saya, dia satpam baru di rumah saya, dan baru bekerja selama satu minggu lebih. Dia memang berkomunikasi dengan saya, dengan bertemu langsung. Oleh karena itu terdapat sidik jari Dwi Sumarno di rumah saya. Daripada berlama -  lamaan, dan dia dapat kabur, tangkap dan periksa sidik jarinya. Itu bukti terkuat saya Pak." aku mengatakannya dengan pelan tapi keras.
            "Baiklah, penjaga diharap mengamankan Pak Walijo, dan periksa sidik jarinya."
            "Saya bukan Dwi Sumarno!" dia menjerit.
            "Diam dan tenang Pak, ini hanya pemeriksaan, dan belum terbukti." kata hakim.
            "Baik silakan!" dia menyerahkan telapak tangannya kepada pemeriksa.
            Mereka mengambil sidik jari dan mencocokannya dengan milik Dwi Sumarno. Sementara hakim melanjutkan sidangnya denganku.
            "Jadi Anda menuduh Pak Walijo sebagai buronan itu?"
            "Tepat sekali." jawabku singkat.
            "Tapi wajahnya tak sama dengan Dwi Sumarno."
            "Kalau itu karena dia sengaja merubahnya, dan menumbuhkan jenggot agar tampak beda Pak." aku menjelaskan.
            Beberapa menit kemudian, pemeriksa sidik jari kembali ke ruangan dengan langkah sopan. Tapi dia tampak tegang, karena sedang melihat buronan itu, yang berseragam satpam dengan pisau tajam yang tersimpan di samping celana panjangnya.
            "Dia Dwi Sumarno! Tangkap dia!" penjaga sidang memerintahkan polisi untuk menangkapnya.
            "Hubungi densus sekarang juga!" perintahku.
            Mereka menyerbu Dwi Sumarno, mengarahkan pistol ke kepalanya. Tapi terlambat, dia sudah memegang leher istriku sambil menodongkan pisau.
            "Kalian mendekat, kubunuh wanita ini!" dia marah.
            "Hati - hati." aku memberi perintah dengan suara rendah.
            "Biarkan aku keluar dan akan kulepaskan wanita ini!" dia menawarkan.
            Roy yang juga di samping buronan itu tampak tegang, dia begitu khawatir.  Tapi aku sempat menatapnya, dan memerintahkan sesuatu padanya.
            "Baik, keluarlah." aku menyetujuinya.
            Dia sekarang berdiri dan akan berjalan keluar, tiba - tiba dia terjatuh, karena kakinya disenggol Roy. Istriku sempat lari menjauh, tapi tangannya bergerak cepat dan merobek kaki istriku, darahnya bercucuran, istriku menjerit dan menangis. Dia berjalan pincang dan aku berhasil memegang tangannya. Syukurlah, dia sudah di sampingku.
            "Angkat tanganmu dan jatuhkan pisaumu!" perintah polisi.
            Dia mengangkat tangan, dan akhirnya menyerah. Polisi mendekati buronan itu sambil memegang pistol, kemudian mengeluarkan borgol. Saat akan memborgol, tampak ada yang aneh dari gerakan tangan sang buronan. Ku yakin ada yang dia rencanakan.
            Dor. Terdengar ledakan besar di luar ruang sidang, ternyata dia meledakkan bom dari tombol yang ada di tangannya. Dia sudah menyiapkan bom agar bisa melarikan diri.
            "Jangan panik! Tetap amankan buronan!" aku mengingatkan.
            Polisi yang hendak memborgol itu kaget, dan Dwi Sumarno sempat melarikan diri. Dia berlari keluar dengan cepat, tak seorangpun dapat menangkapnya.
            "Tangkap dia, jangan biarkan dia lari!" aku mengingatkan lagi.
            Terjadi keributan di luar ruang sidang, orang - orang kebingungan dan menyelamatkan dirinya masing - masing. Tapi syukurlah, berkat jasa densus yang ada di luar, buronan itu dapat ditangkap.
            Keesokan harinya, aku berhasil keluar dari hukuman. Aku telah menyelamatkan harga diriku. Bahkan harga diri keluargaku. Aku hidup kembali seperti biasa, menganggap hilang semua kenangan hari itu, dan tak tahu rintangan sisa hidupku yang tak menentu.~
           
   - THE END -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar